Selasa, 2009 Juli 07

Burdah Antara Kasidah Dan Sejarah

Judul Buku : Burdah;Antara Kasidah,Mistis & Sejarah
Penulis : Muhammad Adib
Penerbit : Pustaka Pesantren Yogyakarta
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : xvi + 98 hlm
ISBN : 979 8452577
Harga : Rp. 18.500,-

Burdah adalah sebuah puisi cinta rasul yang sangat fenomenal, yang kemudian banyak diterjemahkan ke berbagai bahasa (Persia, India, Pakistan, Turki, Urdu, Punjabi, Swahili, Indonesia, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol dan Italia).
Di Indonesia sendiri, Kasidah Burdah menjadi sebuah syair yang sudah mendarah daging dengan tradisi pesantren, sejajar dengan kasidah cinta rasul yang lain semisal al-Barjanji dan ad-Diba’. Di sisi lain, setelah Dalail al-Khairat dan Hizib Nashar atau hizib yang semisalnya, Burdah juga menjadi kasidah yang paling kerap dibaca karena diyakini memiliki nilai mistik tertentu. Nilai-nilai mistik ini membuat Burdah mendapat tempat khusus di kalangan santri maupun masyarakat nahdhiyyin, di antara sekian banyak kasidah cinta rasul yang lain. Yang kemudian disayangkan adalah ketika tradisi pembacaan burdah ini tidak disikapi secara kritis dan proporsional. Kritis dalam arti tidak menerimanya secara buta; proporsional dalam makna tidak menolaknya mentah-mentah dan apriopri ataupun menyikapinya secara berlebihan. Mengkritisi sebuah tradisi memang membutuhkan sebuah keberanian, selain wacana luas dan pandangan yang bijak.
Buku ini mencoba menawarkan hal itu. Buku ini ingin menempatkan Kasidah Burdah dalam posisi yang tepat. Burdah bukan sebuah naskah sejarah, meskipun di dalamnya tertuang peristiwa-peristiwa bersejarah. Burdah bukan kitab mistik, meski banyak orang yang meyakini dan telah merasakan sendiri faidah mistik di dalamnya. Burdah adalah sebuah teks sastra biasa yang juga digubah oleh seorang sastrawan, seorang manusia biasa. Namun demikian, buku ini juga tidak setuju dengan mereka yang menuduh telah terjadi kultus dan pengagungan yang berlebihan terhadap Burdah.
Secara global, buku ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama mencoba menyoroti al-Bushiri, sang penggubah syair Burdah. Dalam bagian ini, pembaca akan diajak melihat kembali siapakah pengarang kasidah yang fenomenal ini; bagaimana pula situasi sosial, politik, dan kondisi keagamaan yang melingkupi kehidupannya; dan bagaimanakah pemikiran-pemikirannya. Sedangkan bagian kedua mencoba menyoroti syair burdah itu sendiri. Selain mengupas sejarah di sekitar syair burdah, pada bagian ini juga dipaparkan secara ringkas kandungan syair burdah dan isu-isu yang berkembang di sekitarnya.

GEGER KIAI ; Catatan Mistis Sang Kembara

Judul Buku : GEGER KIAI ; Catatan Mistis Sang Kembara
Penulis : Fahruddin Nasrullah
Penerbit : Pustaka Pesantren Yogyakarta
Cetakan : I, Mei 2009
Tebal : xxii + 188 hlm.
Ukuran : 12 X 18 cm.
ISBN : 979-8452-51-8
Harga : Rp. 25.500,-

SEBUAH fenomena --seremeh apa pun-- tentu bukanlah sebuah kejadian yang sia-sia. Tuhan telah menciptakan fenomena tersebut sebagai pelajaran berharga bagi kehidupan. Sekecil apapun, di sana terdapat hikmah bagi manusia-manusia yang terbuka mata hatinya. Kepada umatnya, nabi pernah bersabda, "Hikmah adalah barang yang hilang dari perbendaharaan kaum muslim. Barang siapa yang menemukannya, dia lebih berhak memungutnya."
Buku ini menawarkan kepada siapa pun untuk memungut hikmah-hikmah yang tercecer itu, baik dari cerita lisan, pengalaman pribadi, ataupun lainnya.

Sebagai umat Nabi Muhammad, sudah selayaknya kita menyikapi sebuah fenomena—seremeh apa pun—dengan pikiran positif, untuk kemudian mengambil hikmahnya. Sebab, kepada umatnya nabi pernah bersabda, “Hikmah adalah barang yang hilang dari perbendaharaan kaum muslim. Barang siapa yang menemukannya, dia lebih berhak memungutnya.” Dan, penulis buku ini telah memungut hikmah-hikmah yang tercecer—baik dalam cerita lisan, pengalaman pribadi, maupun sumber-sumber lain—dengan menghimpunnya, mencatatnya dalam buku ini, dan kemudian menyuguhkannya dengan bahasa yang enak dicerna.